Definisi Paraji
Menurut DepKes RI (1994 )
“Paraji
adalah seorang anggota masyarakat pada umumnya seorang wanita yang mendapat
kepercayaan serta memiliki keterampilan dalam menolong persalinan secara
tradisional dan memperoleh keterampilan tersebut dengan secara turun temurun,
belajar secara praktis atau dengan cara lain yang menjurus kearah peningkatan
keterampilan bidan serta melalui petugas kesehatan”.
Paraji adalah orang yang dianggap terampil dan dipercaya
oleh masyarakat untuk menolong persalinan dan perawatan ibu dan anak sesuai
kebutuhan masyarakat”.
Sejarah Paraji
Paraji, indung beurang atau dukun beranak. Pada umumnya tenaga
tradisional dalam bidang perawatan ibu dan anak di lingkungan masyarakat Sunda
disebut paraji atau indung beurang. Di berbagai daerah lain di Indonesia
dikenal tenaga tradisional dengan
keahlian yang relatif serupa, ialah sebagai dukun beranak, dengan istilah
seperti sanro pammana pada masyarakat Bugis di Ujung Pandang, dukun
rembhi pada masyarakat Madura, dam bideun pada masyarakat Aceh
Menurut Us Tiarsa R, Ketua Mitra Peduli Kependudukan/ Milik Jabar (2006):
“Paraji bukan dukun, tetapi penolong yang berjiwa sosial sangat tinggi.
Seorang paraji tidak akan pernah berhitung apakah pasiennya mampu atau tidak, mau membayar
atau tidak. Ia dimintai tolong dan itu ibadah yang harus dilaksanakan. Karena itu paraji dalam
kehidupan orang Sunda suka disebut indung beurang, ibu siang hari.
Dilihat dari profesinya, ada dua golongan paraji. Penolong orang yang melahirkan, dan golongan
kedua, juru khitan atau disebut juga bengkong.
Paraji yang pertama pasti perempuan. Sedangkan yang kedua tidak selalu laki-laki karena di
Sumedang dan daerah lain ada satu dua orang perempuan yang jadi peraji sunat”.
Semua paraji adalah wanita. Paraji dikatakan berasal dari dua kata, ialah purah dan jiji.
Purah berarti ”tukang” atau ”orang yang ahli”, jiji berarti ”barang yang kotor”. Pengertian kotor
ini bisa berarti darah yang keluar sewaktu melahirkan, atau wanita yang sedang hamil.
Kotoran yang dikeluarkan termasuk tinja ibu dan bayinya. Selain itu ada istilah indung beurang,
yang menurut sebagian sesepuh, sesungguhnya bukan beurang melainkan barang.
Indung berarti ”ibu”, barang artinya ”bukan sesungguhnya”. Maka indung beurang berarti
”bukan ibu yang sebenarnya”. Pengertian lain adalah ”seorang ibu yang pekerjaannya
menolong keluarnya bayi dari dalam gelap atau malam”, ialah ”saat berada dalam perut
hingga ke dunia”, yakni ”dalam terang”, yang berarti ”siang”, atau beurang.
Maka indung beurang berarti ”ibu yang mengurus bayi sejak lahir hingga menuju ke alam terang”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar