Jumat, 07 Juni 2013

PINTU ATAS PANGGUL



http://obrolanradiologi.blogspot.com/2014/01/pelvimetri.html

  1. Latar Belakang
Pintu atas panggul dianggap sempit apabila konjugata vera kurang adri 10 cm, atau diameter tranvesa kurang dari 12 cm. Kesempitan pada konjugata vera (panggul picak) umumnya lebih menguntungkan daripada kesempitan pada semua ukuran (panggul sempit seluruhnya). Oleh karena pada panggul sempit kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul, maka dalam hal ini serviks uteri kurang mengalami tekanan kepala. Hal ini dapat mengakibatkan inersia uteri atau lambanya pendataran dan pembukaan serviks. Apabila pada panggul sempit pintu atas panggul tidak tertutup dengan sempurna oleh kepala janin, ketuban bisa pecah pada pembukaan kecil dan ada bahaya terjadinya prolapsus funikuli.
Pada panggul picak turunya belakang kepala bisa tertahan dengan akibat terjadinya defleksi kepala, sedang pada panggul sempit seluruhnya ditemukan rintangan pada semua ukuran: kepala memasuki rongga panggul dengan hiperfleksi. Selanjutnya moulage kepala janin dapat dipengaruhi oleh jenis asinklitismus: dalam hal ini asinklitismus anterior lebih menguntungkan daripada asinklitismus posterior oleh karena pada mekanisme yang terakhir gerakan os parietale posterior yang terletak paling bawah tertahan oleh simfisis, sedang pada asinklitismus anterior os parietale anterior dapat bergerak lebih leluasa ke belakang.

  1. Tujuan
1.      Mengetahui maksud dari Pintu Atas Panggul
2.      Mengetahui penyebab kesempitan Pintu Atas Panggul
3.      Mengetahui Terapi kesempitan pintu atas panggul
4.      Mengetahui asuhan kebidanan pada kesempitan pintu atas p[anggul


BAB II
TINJAUAN TEORI
Pintu atas panggul ialah bidang yang melalui bagian atas symphysis, kedua linea innominate dan promontorium.
Pintu atas panggul dianggap sempit bila conjugate vera kurang daripada 10 cm, atau diameter transversa kurang daripada12 cm.
Karena yang biasa diukur conjugate diagonalis, dikatakan bahwa pintu atas panggul sempit bila conjugate diagonalis kurang daripada 11,5 cm. angka ini berdasarkan kenyataan diameter biparietalis kepala anak kadang-kadang sebesar 10 cm, sehingga anak sukar melalui panggul dengan conjugate vera kurang daripada 10 cm.
Bila diameter anteroposterior dan diameter transversa menyempit, prognosis persalinan jauh lebih buruk daripada bila hanya satu diameter menyempit.
A.     Macam – macam Penyebab Kesempitan Pintu Atas Panggul
1.      POSISI UTERUS
Biasa kelainan panggul tidak menghalangi keluarnya uterus dari rongga panggul, sehingga jarang menimbulkan inkarserasi.
Pada kehamilan lanjut masuknya kepala kedalam pintu atas panggul terhambat. Fundus uteri lebih tinggi daripada biasa. Karena segmen bawah uterus tidak difiksasi kepala anak, uterus lebih mudah digerakkan. Pada wanita dengan lordosis lumbalis kapasitas rongga perut berkurang dan uterus mendororng dinding perut kedepan. Bila terdapat abdomen pendulum pada seorang primigravida harus difikirkan kelainan panggul. Sebaliknya abdomen pendulum pada multigravida tidak ada artinya karena dinding perut lemah akibat kehamilan sebelumnya.



2.      LETAK ANAK
Panggul sempit merupakan sebab utama kelainan letak. Pada primigravida kepala anak biasanya masuk pintu atas panggul pada minggu-minggu terakhir kehamilan. Bila pintu atas panggul sempit, kepala anak tidak dapat masuk atau baru masuk setelah persalinan dimulai. Karena kepala anak masih diatas pintu panggul, sering terjadi kelainan letak. Kelainan letak pada primigravida penting karena disebabkan disproporsi berat antara kepala dan panggul.

3.      BESAR FETUS
Pada wanita dengan pintu atas panggul sempit biasanya anak juga kecil. Mungkin disebabkan karena panggul sempit hanya akibat pertumbuhan kurang sempurna yang merupakan ciri penderita.
B.     MEKANISMUS PERSALINAN
Bila kesempitan hanya salam ukuran anteroposterior, dan conjungata vera kurang daripada 9 cm, diameter biparietalis anak cukup bulan (9,5   10 cm) tidak dapat melaluinya. Terjadi defleksi sehingga diameter anteroposterior dilalui diameter bitemporalis. Oleh karena itu pada panggul sempit sering ditemukan letak defleksi.
Bila panggul sempit dalam semua ukuran, kepala mendapat rintangan dari semua jurusan dan kepala masuk ke dalam panggul dalam keadaan hiperfleksi sehingga pada pemeriksaan dalam, ubun-ubun kecil mudah teraba dan ubun-ubun besar hampira tidak tercapai.

C.     JALAN PERSALINAN
Dalam kala satu dilatasi cervix dipermudah oleh tekanan hidrostatik bila ketuban belum pecah dan tekanan bagian terendah janin bila ketuban sudah pecah. Pada panggul sempit kepala tertahan diatas panggul, sehingga tekanan kontraksi uterus langsung menuju selaput ketuban yang berhubungan dengan ostium internum. Besar kemungkinan ketuban pecah sebelum waktunya. Setelah ketuban pecah, kepala tidak menekan servix, kecuali bila dengan cukup moulage kepala dapat turun atau ada caput succedaneum besar.
Karena kepala tidak menekan servix dan segmen bawah uterus, dapat timbul inertia uteri. Oleh karna itu pada panggul sempit pembukaan berjalan sangat lambat dan kadang-kadang tidak menjadi lengkap.
Jalannya proses pembukaan dapat dipergunakan untuk penentuan prognosis. Bila pembukaan lancer prognosis baik. Bila pembukaan lambat, besar kemungkinan anak tidak dapat melalui panggul.
Kala kedua lama, karena diperlukan waktu untuk moulage sehingga bentuk dan besar kepala sesuai dengan panggul. Persalinan pada panggul sempit disertai dengan bahaya untuk ibu dan anak.
D.     Bidang Pintu Atas Panggul dibatasi oleh:
1.      Anterior            : margo posterior superior symphisis pubis
2.      Lateral              : linea iliopectinea
3.      Posterior          : promontorium dan ala ossis sacri

Diameter – diameter Pintu atas Panggul
  1. Diameter-diameter anteroposterior:
a.       Conjugata anatomic adalah jarak antara pertengahan promomtorium dengan pertengahan crista pubica (permukaan atas os pubis). Ukurannya adalah 11,5 cm. Diameter ini tidak mempunyai arti obstetric yang penting.
b.      Conjugata obstetrika adalah jarak antara pertengahan promontorium dengan margo posterior superior sympisis pubis. Titik pada os pubis ini, yang menonjol ke belakang ke dalam cavum pelvis, berada kurang lebih 1 cm dibawah crista pubica. Ukuran conjugata obstetrica lebih kurang 11.0 cm. Diameter ini adalah diameter anteroposterior yang penting karena harus dilewati oleh janin.
c.       Conjugata diagonalis adalah jarak antara angulus subpubicus dengan pertengahan promontorium. Ukurannya 12.5 cm. Diametre ini pada pasien dapat diukur secara manual dan mempunyai arti klinis yang penting karena jika ukurannya dikurangi 1.5 cm maka akan diperoleh perkiraan ukuran conjugata obstetrica.
  1. Diameter transversa adalah jarak terbesar antara linea iliopectinea kanan-kiri dan ukuran-ukurannya 13,5 cm.
  2. Diameter obliqua sinistra adalah jarak antara articulatio sacroiliaca sinistra dengan eminetia iliopectinea dextra. Ukurannya lebih kurang 12.5 cm.
  3. Diameter obliqua dextra adalah jarak antara articulatio sacroiliaca dextra dengan eminentia iliopectinea sinistra. Ukurannya lebih kurang 12.5 cm.

E.     BAHAYA BAGI IBU
1.      RUPTURA UTERI
Bila disproporsi antara kepala dan panggul nyata, sehingga anak tidak dapat melalui panggul, segmen bawah uterus bertambah tipis. Lingkaran retraksi dapat diraba diantara symphysis dan umbilicus. Bila persalinan tidak segera diakhiri akan terjadi rupture uteri.
2.      TERBENTUKNYA FISTULAE
Bila bagian terendah janin terjepit didalam panggul dan untuk waktu lama persalinan tidak maju, bagian jalan lahir tertekan diantara janin dan panggul, sirkulasi terganggu dan berapa hari postpartum timbul fistula vesicovaginal, vesicocervical atau rectovaginal sebagai manifestasi nekrosis yang telah terjadi.
Dahulu waktu persalinan dibiarkan lama sebelum diambil tindakan melahirkan anak, fistula sering terjadi.
3.      INFEKSI INTRAPARTUM
Infeksi dapat terjadi pada partus lama dengan ketuban pecah sebelum waktunya terutama bila sering diperiksa dalam. Infeksi intrapartum merupakan komplikasi berat untuk ibu dan sebab utama kematian janin, karena kuman dapat melalui amnion masuk kedalam pembuluh chorion. Pneumonia pada bayi yang baru lahir sering disebabkan infeksi intra uterin.

F.      BAHAYA BAGI ANAK
1.      Pada anak pengaruh persalinan lama kurang baik.
Persalinan yang lebih dari 20 jam atau kala dua lebih dari tiga jam, meningkatkan kematian perinatal.
Ketuban pecah sebelum waktunya dan infeksi intra uterin, menambah bahaya bagi anak.
2.      Prolapsus funiculi merupakan komplikasi berat dan sering terjadi bila pintu atas panggul tidak terisi penuh dengan bagian terendah anak. Prolapsus funiculi tidak mempengaruhi jalannya persalinan, tetapi bila janin akan meninggal bila tidak segera dilahirkan karena tali pusat terjepit diantara panggul dan janin.
Pada panggul sempit sering terbentuk caput succedaneum besar. Kadang-kadang caput sangat besar sehingga sampai pada dasar panggul, sedang kepala dengan ukuran terbesar belum melalui pintu atas panggul. Orang yang belum berpengalaman dapat membuat kesalahan dan menyangka bahwa anak mudah dapat dilahirkan dengan forceps.
Caput succedaneum tidak berakibat buruk dan akan hilang beberapa hari setelah anak lahir.
Pada disproporsi sefalopelvik kepala anak baru dapat melalui panggul setelah  moulage. Ukuran kepala dapat mengecil karena “overlapping” tulang.
Karena moulage ini diemeter biparietalis dapat berkurang setengah sentimeter tanpa berakibat buruk tetapi bila harus mengecil lebih banyak, besar kemungkinan terjadi kerusakan otak.

G.    PROGNOSIS :
Prognosis persalinan bergantung kepada banyak faktor ; besar panggul, besar dan letak anak, his dan keadaan cervix. Meskipun besar panggul hanya merupakan salah satu faktor yang menentukan, apakah anak dapat lahir per vaginam atau tidak, dan masih banyak faktor yang berperan tapi hanya faktor panggul dapat dipastikan sebelum persalinan.
Lepas dari faktor lain, dapat dipastikan bahwa anak cukup bulan, tidak mungkin melalui panggul dengan  conjugata obstetrika kurang daripada 8,5 cm. sebaliknya bila conjugata obstetrika lebih daripada 10 cm kesulitan persalinan yang mungkin timbul, tidak kerana panggul.
Prognosis persalinan pada panggul dengan conjugata obstetrika kurang daripada 8,5 cm buruk dan perlu dilakukan sectio caesarea. Bila conjugata obstetrika 10 cm atau lebih diharapkan bahwa anak dapat melalui panggul.
Prognosis persalinan pada golongan ini ditentukan oleh beberapa faktor :
1.      Persalinan sebelumnya.
2.      Besarnya anak.
3.      Ketuban pecah sebelum waktunya.
4.      HIS
5.      Proses pembukaan.
6.      Bentuk panggul.
7.      Infeksi Intra Partum.
Karena belum dapat dipastikan, apakah janin dapat melalui panggul, dilakukan Partus Percobaan.
Pemeriksaan rontgenologik dengan membuat foto latereal dapat menggambarkan apakah kepala dapat turun dan melalui panggul.
Untuk mengetahui disproporsi cefalopelvik dapat dilakukan  pemeriksaan Mueller. Melalui dinding perut kepal anak dipegang dan didorong kebawah. Dengan jari di vagina dapat ditentukan apakah dengan dorongan kepala masuk kedalam Pintu Atas Panggul.
Dengan cefalometri rontgenologik atau ultrasonic dapat ditentukan besar kepala. Pemeriksaan rontgenologik tidak memuaskan dan pemeriksaan ultrasonic lebih cepat.
Panggul sempit pada letak sungsang merupakan komplikasi berat. Sering terjadi prolaps Funiculi dalam kala I dan kala II dapat terjadi kesulitan melahirkan kepala anak. Karena kepala anak tidak berdekatan dengan panggul tidak dapat ditentukan disproporsi sefalopelvik. Oleh karena itu secioa saecarea elektif sering dilakukan.
Umumnya letak muka dan dahi menunjukkan disproporsi sefalopelvik berat, sehingga anak cukup bulan dalam letak muka dan dahi lebih baik dilahirkan dengan sectio saecarea bila terdapat kesempitan panggul.
H.     TERAPI.
Terapi bergantung kepada prognosis persalinan. Bila menurut kriteria yang digunakan untuk penentuan prognosis, anak tidak dapat lahir per vaginam dengan aman, harus dilakukan sectio saecarea.
Bila masih terdapat kemungkinan anak lahir per vaginam sebaiknya dilakukan partus percobaan.
I.        Asuhan Kebidanan
a.       Memberikan semangat pada ibu dan keluarga
b.      Melakukan partus percobaan bila masih terdapat kemungkinan anak lahir pervaginam.
c.       Pada primipara dalam fase aktif kala satu persalinan lakukan asuhan seperti baringkan ibu pada posisi miring kiri.
d.      Segera rujuk ke fasilitas yang memiliki kemampuan untuk melakukan bedah sesar.
e.       Damping ibu ke tempat rujukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Greek Mythology (Curcol Edition*)

Hae, Guys... Did you ever heard about Greek Mythology before? To be honest, I’m never heard it before. Till someone that I follo...