Jumat, 07 Juni 2013

PERAWATAN PASCAPARTUM





       I.            TINJAUAN
A.     Konsep-konsep Esensial
1.      Perawatan pascapartum mengacu pada pelayanan medis dan keperawatan yang diberikan kepada wanita selama nifas, yakni periode 6 minggu setelah kelahiran, dimulai dari akhir persalinan dan berakhir dengan kembalinya organ-organ reproduktif ke keadaan sebelum hamil.
2.      Periode ini merupakan penyesuaian fisik dan psikologis terhadap proses kelahiran dan kadang-kadang disebu sebagai trimester ke empat kehamilan.
3.      Selama periode ini, uterus mengalami involusi-perubahan progresif uterus setelah kelahiran, mengantar kembali uterus ke ukuran dan kondisi yang mendekati sebelum kehamilan.
4.      Satu aspek perawatan pascapartum yang biasanya mengalami kerugian karena tren pemulangan cepat adalah dukungan dalam menyusui ASI.

B.     Tujuan Perawatan Pascapartum
1.      Meningkatkan involusi uterus normal dan kembali ke keadaan sebelum hamil.
2.      Mencegah atau meminimalkan komplikasi pascapartum.
3.      Meningkatkan kenyamanan dan penyembuhan pelvik, jaringan perianal, dan perineal.
4.      Membantu pemulihan fungsi tubuh normal.
5.      Meningkatkan pemahaman terhadap perubahan-perubahan fisiologis dan psikologis.
6.      Memfasilitasi perawatan bayi baru lahir dan perawatan mandiri oleh ibu baru.
7.      Meningkatkan keberhasilan integrasi bayi baru lahir ke dalam unit keluarga.
8.      Menyokong keterampilan peran orang tua dan pelekatan orang tua bayi.
9.      Menyiapkan perencanaan pulang yang efektif, termasuk rujukan yang tepat perawatan lanjutan di rumah. (Penyuluhan Klien dan Keluarga 10-1 menjelaskan tanda dan gejala peringatan pascapartum yang harus diperhatikan untuk dilaporkan pada dokter).

PENYULUHAN KLIEN DAN KELUARGA 10-1  
TANDA DAN GEJALA BAHAYA PASCAPARTUM UNTUK DILAPORKAN KE DOKTER
·        Peningkatan perdarahan, bekuan darah, atau keluaran jaringan
·        Perdarahan pervaginam merah terang setiap waktu setelah kelahiran
·        Nyeri lebih berat dari yang seharusnya
·        Merasa kandung kemih penuh disertai ketidakmampuan untuk berkemih
·        Pembesaran hematoma
·        Perasaan gelisah disertai dengan kulit yang pucat, dingin dan lembab; denyut jantung cepat; pusing, dan gangguan penglihatan
·        Nyeri, kemerahan dan hangat disertai area yang keras pada betis
·        Sulit bernapas, denyut jantung cepat, nyeri dada, batuk, perawaan gelisah, pucat, dingin atau warna kulit biru.

C.     Faktor-faktor yang Memengaruhi Pengalaman Pascapartum
1.      Sifat persalinan dan kelahiran, serta tujuan kelahiran
2.      Persiapan persalinan, kelahiran, dan peran menjadi orang tua
3.      Transisi menjadi orang tua yang mendadak
4.      Pengalaman keluarga secara individual atau bersama terhadap kelahiran anak dan membesarkan anak
5.      Harapan peran anggota keluarga
6.      Kepekaan dan efekivitas asuhan keperawatan dan perawatan professional lainnya.
7.      Faktor-faktor risiko pada komplikasi pascapartum; factor-faktor risiko tersebut meliputi:
a.       Preeklamsia atau eklamsia
b.      Diabetes
c.       Masalah jantung
d.      Distensi uterus yang berlebihan (sebagai akibat kelahiran multiple atau hidramnion)
e.       Solusio plasenta atau plasenta previa
f.        Persalinan presipitatus atau persalinan lama, kesulitan melahirkan, atau lamanya waktu yang digunakan pada penyangga kaki.

    II.            PERUBAHAN BIOFISIK PASCAPARTUM
A.     Perubahan Sistem Reproduktif
1.      Uterus
Uterus berkontraksi dengan kuat setelah kelahiran bayi, ukurannya mengecil lebih dari setengahnya. Uterus akan tetap sama ukurannya sampai sekitar 2 hari, kemudian berkurang (involusi) dan turun sekitar satu ruas jari per hari.
a.       Pada 10 sampai 14 hari pascapartum, uterus tidak dapat dipalpasi di abdomen. Uterus kembali mendekati ukuran sebelum hamil dalam 4 sampai 6 minggu pascapartum. Tempat pelekatan plasenta membutuhkan 6 sampai 7 minggu untuk sembuh; regenerasi endometrium memerlukan waktu 6 minggu.
b.      Lokia, keluaran dari uterus selama 3 minggu pertama setelah kelahiran terjadi dalam tiga tipe.
1)      Lokia rubra, adalah keluaran berwarna merah gelap terjadi pada 2 sampai 3 hari pertama. Lokia ini mengandung sel-sel epitel, eritrosit, leukosit, dan desidua serta memiliki bau karakteristik manusia.
2)      Lokia serosa, adalah keluaran merah muda sampai kecokelatan, terjadi dari 3 sampai 10 hari setelah kelahiran. Ini adalah keluaran serosanguineous yang mengandung desidua, eritrosit, leukosit, lender serviks, dan mikroorganisme. Lokia serosa memiliki bau yang keras.
3)      Lokia alba adalah keluaran yang hamper tidak berwarna sampai krem kekuningan, terjadi dari 10 hari sampai 3 minggu setelah kelahiran. Keluaran ini mengandung leukosit, desidua, sel-sel epitel, lemak, lendir serviks, Kristal kolesterol dan bakteri. Lokia alba seharusnya tidak berbau.

2.      Serviks
Serviks menjadi lebih tebal dan lebih keras; pada ahir minggu pertama pascapartum, serviks masih akan berdilatasi sekitar 1 cm. involusi serviks yang lengkap bias berlangsung 3 sampai 4 bulan. Kelahiran anak bisa mengakibatkan perubahan permanen pada ostium serviks dari bulat menjadi memanjang.

3.      Vagina
Vagina halus dan membengkak, dengan tonus yang buruk setelah kelahiran. Rugae tampak kembali dalam 3 sampai 4 minggu pascapartum. Indeks estrogen kembali dalam 6 sampai 10 minggu.

4.      Perineum
Perineum tampak edema dan memar setelah melahirkan; bisa ditemukan episiotomy atau laserasi.

5.      Abdomen
Abdomen tetap lunak dan mengendur selama beberapa waktu setelah melahirkan. Striae tetap, tetapi putih perak. Diastasis rekti (pemisahan

6.      Payudara
Perubahan payudara meliputi hal berikut ini:
a.       Terjadi penurunan cepat kadar estrogen dan progesterone, dengan peningkatan sekresi prolactin setelah melahirkan.
b.      Kolostrum sudah ada pada waktu melahirkan; ASI diproduksi pada hari ketuga atau keempat pascapartum.
c.       Payudara lebih besar dan lebih keras terjadi karena laktasi (pembengkakan primer). Kongesti berkurang dalam 1 atau 2 hari.
d.      Di dalam payudara, prolaktin menstimulasi sel-sel alveolar untuk menghasilkan susu. Pengisapan oleh bayi bayi baru lahir memicu pelepasan oksitosin dan kontraktilitas sel-sel mioepitelial, yang menstimulasi aliran susu; ini dikenal sebagai reflex let-down. Jumlah rata-rata ASI yang dihasilkan 24 jam meningkat sejalan dengan waktu.
1)      Minggu pertama −6 sampai 10 ons
2)      1 sampai 4 minggu  −20 ons
3)      Setelah 4 minggu −30 ons

B.     Perubahan Sistem Endokrin
1.      Kadar estrogen dan progesterone menurun dengan cepat setelah melahirkan. Penurunan estrogen dan progesterone plasenta yang cepat setelah melahirkan bertanggung jawab terhadap banyak perubahan anatomi dan fisiologi selama nifas.
2.      Ovulasi dan dimulainya kembali menstruasi dipengaruhi oleh apakah klien menyusui ASI atau tidak.
a.       Empat puluh lima persen para wanita yang menyusui mulai kembali menstruasi dalam 12 minggu, 80% memiliki satu lebih siklus anovulatori sebelum ovulasi pertama.
b.      Empat puluh persen wanita yang tidak menyusui ASI memulai kembali menstruasi dalam 6 minggu setelah melahirkan; 65% dalam 12 minggu; dan 90% dalam 24 minggu. Lima puluh % berovulasi selama siklus yang pertama.
3.      Kebutuhan akan istirahat dan tidur meningkat secara signifikan.

C.     Perubahan Sistem Kardiovaskular
1.      Bradikardi sementara (50 sampai 70 kali permenit) terjadi selama 24 sampai 48 jam setelah melahirkan dan bisa berlanjut hingga 6 sampai 8 hari.
2.      Volume darah menurun ke kadar sebelum hamil pada 4 minggu setelah melahirkan.
3.      Hematocrit meningkat pada hari ke-3 sampai ke-7 pascapartum.
4.      Leukositosis (20.000 sampai 30.000 sel-sel darah putih per mm3) berlanju untuk beberapa hari setelah melahirkan.
5.      Tekanan darah tetap stabil dan nadi frekuensinya kembali seperti sebelum hamil dalam 3 bulan pascapartum.

D.    Perubahan Sistem Imun
1.      Sedikit peningkatan suhu tubuh ibu bisa terjadi tanpa penyebab yang nyata setelah kelahiran. Namun demikian, suhu ibu seharusnya tetap dalam batas normal.
2.      Setiap ibu yang suhunya mencapai 38oC (100,4oF) dalam periode 24 jam dua kali berturut-turut selama 10 hari pertama pascapartum, tidak termasuk 24 jam pertama, dianggap demam.

E.     Perubahan Sistem Pernapasan
Fungsi pulmonar kembali ke status sebelum hamil dalam 6 bulan setelah melahirkan.

F.      Perubahan Sistem Renal dan Perkemihan
1.      Distensi berlbeihan pada kandung kemih adalah hal yang umum terjadi karena peningkatan kapasitas kandung kemih, pembengkakan, memar jaringan di sekitar uretra, dan hilangnya sensasi terhadap tekanan yang meningkat.
a.       Kandung kemuh yang penuh menggeser uterus dan dapat menyebabkan perdarahan pascapartum; distensi kandung kemih dapat menyebabakan retensi urine.
b.      Pengososngan kandung kemih yang adekuat umumnya kembali dalam 5 sampai 7 hari setelah terjadi pemulihan jaringan yang bengkak dan memar.
2.      Laju filtrasi glomelurus (GFR) tetap meningkat selama kira-kira 7 hari setelah melahirkan.
3.      Ureter yang berdilatasi dan pelvis renal kembali ke keadaan sebelum hamil dalam 6 sampai 10 minggu setelah melahirkan.
4.      Diaphoresis puerperalis dan diuresis terjadi dalam 24  jam pertama setelah melahirkan.

G.    Perubahan Sistem Gastrointestinal
1.      Lapar dan haus merupakan hal yang umum terjadi setalah melahirkan.
2.      Motilitas dan tonus gastrointestinal kemabli ke keadaan sebelum hamil dalam 2 minggu setelah melahirkan.
3.      Konstipasi umumnya terjadi selama periode pascapartum awal karena penurunan tonus otot usus, rasa tidak nyaman pada perineum, dan kecemasan.
4.      Klien dapat kembali ke berat badannya sebelum hamil dalam 6 sampai 8 minggu jika pertambahan berat badannya selama kehamilan dalam kisaran normal.
5.      Hemoroid merupakan masalah yang umum dalam periode pascapartum awal karena tekanan pada dasar panggul dan mengejan selama persalinan.

H.    Perubahan Sistem Muskuloskeletal
1.      Sebagian besar wanita melakukan ambulasi 4 sampai 8 jam setelah melahirkan, ambulasi dini dianjurkan untuk menghindari komplikasi, meningkatkan involusi, dan meningkatkan cara pandang emosional.
2.      Relaksasi dan peningkatan mobilitas artikulasio pelvik terjadi dalam 6 sampai 8 minggu setelah melahirkan.
I.       Perubahan Sistem Integumen
1.      Melanin menurun secara bertahap setelah melahirkan, menyebabkan penurunan hiperpigmentasi (namun demikian, warnanya tidak akan kembali ke status sebelum hamil).
2.      Perubahan vascular kehamilan yang tampak akan hilang dengan penurunan kadar estrogen.

 III.            ADAPTASI PSIKOSOSIAL PASCAPARTUM
A.     Konsep-konsep Esensial
1.      Periode pascapartum menggambarkan suatu waktu stress emosional bagi ibu baru, menjadi lebih sulit dengan perubahan fisiologis besar yang terjadi.
2.      Faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan transisi ke peran menjadi orang tua selama periode pascapartum meliputi:
a.       Respons dan dukungan keluarga dan teman
b.      Hubungan pengalaman kelahiran dengan harapan dan aspirasi
c.       Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak sebelumnya
d.      Pengaruh budaya
3.      Rubbin (1997) menjelaskan periode ini terjadi dalam tiga tahap taking-in, taking-hold, letting-go.
B.     Periode Taking-in
1.      Selama periode ini, yang terjadi 1 sampai 2 hari setelah melahirkan, ibu baru biasanya bersifat pasif dan bergantung; energy difokusan pada perhatian ke tubuhnya.
2.      Ia akan sering mengulang kembali pengalaman persalinan dan melahirkannya.
3.      Tidur yang tidak terganggu adalah penting jika si ibu ingn menghindari efek gangguan kurang tidur, yang meliputi leih, iritabilitas, dan gangguan dalam proses pemulihan normal.
4.      Nutrisi tambahan mungkin diperlukan karena selerea majan ibu biasanya meningkat, selera makan yang buruk merupakan tanda bahwa proses pemulihan tidak berjalan dengan normal.

C.     Periode Taking-hold
1.      Selama periode ini, yang berlangsung 2 sampai 4 hari setelah melahirkan, si ibu menaruh perhatian pada kemampuannya untuk menjadi orang tua yang berhasil dan menerima peningkatan tanggung jawab terhadap bayinya.
2.      Ibu berfokus pada pengembalian control terhadap fungsi tubuhnya, fungsi usus dan kandung kemih, kekuatan, dan daya tahan.
3.      Ibu berusaha untuk terampil dalam perawatan bayi baru lahir (misalnya, memeluk, menyusui ASI atau dengan botol, memandikan dan mengganti popok). Ia mungkin peka terhadap perasaan-perasaan tidak mampu dan mungkin cenderung atau tertutup. Perawat seharusnya memperhatikan hal ini sewaktu memberikan instruksi dan dukungan emosi.

D.     Periode Letting-go
1.      Banyak ibu mengalami perasaan “kekecewaan” setelah melahirkan berhubungan dengan hebatnya pengalaman melahirkan dan keraguan akan kemampuan untuk mengatasi kenutuhan membesarkan anak secara efektif.
2.      Biasanya, depresi ini ringan dan sementara, yang dimulai 2 sampai 3 hari setelah melahirkan dan selesai salam 1 sampai 2 minggu.
3.      Jarang terjadi, secara relatif depresi ringan dapat mengarah kepada psikosis pascapartum, kondisi patologis.

Referensi :
Stright, Barbara. 2004. Panduan Belajar: Keperawayan ibu-bayi baru lahir. Penerbit : EGC. Jakarta

PINTU ATAS PANGGUL



http://obrolanradiologi.blogspot.com/2014/01/pelvimetri.html

  1. Latar Belakang
Pintu atas panggul dianggap sempit apabila konjugata vera kurang adri 10 cm, atau diameter tranvesa kurang dari 12 cm. Kesempitan pada konjugata vera (panggul picak) umumnya lebih menguntungkan daripada kesempitan pada semua ukuran (panggul sempit seluruhnya). Oleh karena pada panggul sempit kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul, maka dalam hal ini serviks uteri kurang mengalami tekanan kepala. Hal ini dapat mengakibatkan inersia uteri atau lambanya pendataran dan pembukaan serviks. Apabila pada panggul sempit pintu atas panggul tidak tertutup dengan sempurna oleh kepala janin, ketuban bisa pecah pada pembukaan kecil dan ada bahaya terjadinya prolapsus funikuli.
Pada panggul picak turunya belakang kepala bisa tertahan dengan akibat terjadinya defleksi kepala, sedang pada panggul sempit seluruhnya ditemukan rintangan pada semua ukuran: kepala memasuki rongga panggul dengan hiperfleksi. Selanjutnya moulage kepala janin dapat dipengaruhi oleh jenis asinklitismus: dalam hal ini asinklitismus anterior lebih menguntungkan daripada asinklitismus posterior oleh karena pada mekanisme yang terakhir gerakan os parietale posterior yang terletak paling bawah tertahan oleh simfisis, sedang pada asinklitismus anterior os parietale anterior dapat bergerak lebih leluasa ke belakang.

  1. Tujuan
1.      Mengetahui maksud dari Pintu Atas Panggul
2.      Mengetahui penyebab kesempitan Pintu Atas Panggul
3.      Mengetahui Terapi kesempitan pintu atas panggul
4.      Mengetahui asuhan kebidanan pada kesempitan pintu atas p[anggul


BAB II
TINJAUAN TEORI
Pintu atas panggul ialah bidang yang melalui bagian atas symphysis, kedua linea innominate dan promontorium.
Pintu atas panggul dianggap sempit bila conjugate vera kurang daripada 10 cm, atau diameter transversa kurang daripada12 cm.
Karena yang biasa diukur conjugate diagonalis, dikatakan bahwa pintu atas panggul sempit bila conjugate diagonalis kurang daripada 11,5 cm. angka ini berdasarkan kenyataan diameter biparietalis kepala anak kadang-kadang sebesar 10 cm, sehingga anak sukar melalui panggul dengan conjugate vera kurang daripada 10 cm.
Bila diameter anteroposterior dan diameter transversa menyempit, prognosis persalinan jauh lebih buruk daripada bila hanya satu diameter menyempit.
A.     Macam – macam Penyebab Kesempitan Pintu Atas Panggul
1.      POSISI UTERUS
Biasa kelainan panggul tidak menghalangi keluarnya uterus dari rongga panggul, sehingga jarang menimbulkan inkarserasi.
Pada kehamilan lanjut masuknya kepala kedalam pintu atas panggul terhambat. Fundus uteri lebih tinggi daripada biasa. Karena segmen bawah uterus tidak difiksasi kepala anak, uterus lebih mudah digerakkan. Pada wanita dengan lordosis lumbalis kapasitas rongga perut berkurang dan uterus mendororng dinding perut kedepan. Bila terdapat abdomen pendulum pada seorang primigravida harus difikirkan kelainan panggul. Sebaliknya abdomen pendulum pada multigravida tidak ada artinya karena dinding perut lemah akibat kehamilan sebelumnya.



2.      LETAK ANAK
Panggul sempit merupakan sebab utama kelainan letak. Pada primigravida kepala anak biasanya masuk pintu atas panggul pada minggu-minggu terakhir kehamilan. Bila pintu atas panggul sempit, kepala anak tidak dapat masuk atau baru masuk setelah persalinan dimulai. Karena kepala anak masih diatas pintu panggul, sering terjadi kelainan letak. Kelainan letak pada primigravida penting karena disebabkan disproporsi berat antara kepala dan panggul.

3.      BESAR FETUS
Pada wanita dengan pintu atas panggul sempit biasanya anak juga kecil. Mungkin disebabkan karena panggul sempit hanya akibat pertumbuhan kurang sempurna yang merupakan ciri penderita.
B.     MEKANISMUS PERSALINAN
Bila kesempitan hanya salam ukuran anteroposterior, dan conjungata vera kurang daripada 9 cm, diameter biparietalis anak cukup bulan (9,5   10 cm) tidak dapat melaluinya. Terjadi defleksi sehingga diameter anteroposterior dilalui diameter bitemporalis. Oleh karena itu pada panggul sempit sering ditemukan letak defleksi.
Bila panggul sempit dalam semua ukuran, kepala mendapat rintangan dari semua jurusan dan kepala masuk ke dalam panggul dalam keadaan hiperfleksi sehingga pada pemeriksaan dalam, ubun-ubun kecil mudah teraba dan ubun-ubun besar hampira tidak tercapai.

C.     JALAN PERSALINAN
Dalam kala satu dilatasi cervix dipermudah oleh tekanan hidrostatik bila ketuban belum pecah dan tekanan bagian terendah janin bila ketuban sudah pecah. Pada panggul sempit kepala tertahan diatas panggul, sehingga tekanan kontraksi uterus langsung menuju selaput ketuban yang berhubungan dengan ostium internum. Besar kemungkinan ketuban pecah sebelum waktunya. Setelah ketuban pecah, kepala tidak menekan servix, kecuali bila dengan cukup moulage kepala dapat turun atau ada caput succedaneum besar.
Karena kepala tidak menekan servix dan segmen bawah uterus, dapat timbul inertia uteri. Oleh karna itu pada panggul sempit pembukaan berjalan sangat lambat dan kadang-kadang tidak menjadi lengkap.
Jalannya proses pembukaan dapat dipergunakan untuk penentuan prognosis. Bila pembukaan lancer prognosis baik. Bila pembukaan lambat, besar kemungkinan anak tidak dapat melalui panggul.
Kala kedua lama, karena diperlukan waktu untuk moulage sehingga bentuk dan besar kepala sesuai dengan panggul. Persalinan pada panggul sempit disertai dengan bahaya untuk ibu dan anak.
D.     Bidang Pintu Atas Panggul dibatasi oleh:
1.      Anterior            : margo posterior superior symphisis pubis
2.      Lateral              : linea iliopectinea
3.      Posterior          : promontorium dan ala ossis sacri

Diameter – diameter Pintu atas Panggul
  1. Diameter-diameter anteroposterior:
a.       Conjugata anatomic adalah jarak antara pertengahan promomtorium dengan pertengahan crista pubica (permukaan atas os pubis). Ukurannya adalah 11,5 cm. Diameter ini tidak mempunyai arti obstetric yang penting.
b.      Conjugata obstetrika adalah jarak antara pertengahan promontorium dengan margo posterior superior sympisis pubis. Titik pada os pubis ini, yang menonjol ke belakang ke dalam cavum pelvis, berada kurang lebih 1 cm dibawah crista pubica. Ukuran conjugata obstetrica lebih kurang 11.0 cm. Diameter ini adalah diameter anteroposterior yang penting karena harus dilewati oleh janin.
c.       Conjugata diagonalis adalah jarak antara angulus subpubicus dengan pertengahan promontorium. Ukurannya 12.5 cm. Diametre ini pada pasien dapat diukur secara manual dan mempunyai arti klinis yang penting karena jika ukurannya dikurangi 1.5 cm maka akan diperoleh perkiraan ukuran conjugata obstetrica.
  1. Diameter transversa adalah jarak terbesar antara linea iliopectinea kanan-kiri dan ukuran-ukurannya 13,5 cm.
  2. Diameter obliqua sinistra adalah jarak antara articulatio sacroiliaca sinistra dengan eminetia iliopectinea dextra. Ukurannya lebih kurang 12.5 cm.
  3. Diameter obliqua dextra adalah jarak antara articulatio sacroiliaca dextra dengan eminentia iliopectinea sinistra. Ukurannya lebih kurang 12.5 cm.

E.     BAHAYA BAGI IBU
1.      RUPTURA UTERI
Bila disproporsi antara kepala dan panggul nyata, sehingga anak tidak dapat melalui panggul, segmen bawah uterus bertambah tipis. Lingkaran retraksi dapat diraba diantara symphysis dan umbilicus. Bila persalinan tidak segera diakhiri akan terjadi rupture uteri.
2.      TERBENTUKNYA FISTULAE
Bila bagian terendah janin terjepit didalam panggul dan untuk waktu lama persalinan tidak maju, bagian jalan lahir tertekan diantara janin dan panggul, sirkulasi terganggu dan berapa hari postpartum timbul fistula vesicovaginal, vesicocervical atau rectovaginal sebagai manifestasi nekrosis yang telah terjadi.
Dahulu waktu persalinan dibiarkan lama sebelum diambil tindakan melahirkan anak, fistula sering terjadi.
3.      INFEKSI INTRAPARTUM
Infeksi dapat terjadi pada partus lama dengan ketuban pecah sebelum waktunya terutama bila sering diperiksa dalam. Infeksi intrapartum merupakan komplikasi berat untuk ibu dan sebab utama kematian janin, karena kuman dapat melalui amnion masuk kedalam pembuluh chorion. Pneumonia pada bayi yang baru lahir sering disebabkan infeksi intra uterin.

F.      BAHAYA BAGI ANAK
1.      Pada anak pengaruh persalinan lama kurang baik.
Persalinan yang lebih dari 20 jam atau kala dua lebih dari tiga jam, meningkatkan kematian perinatal.
Ketuban pecah sebelum waktunya dan infeksi intra uterin, menambah bahaya bagi anak.
2.      Prolapsus funiculi merupakan komplikasi berat dan sering terjadi bila pintu atas panggul tidak terisi penuh dengan bagian terendah anak. Prolapsus funiculi tidak mempengaruhi jalannya persalinan, tetapi bila janin akan meninggal bila tidak segera dilahirkan karena tali pusat terjepit diantara panggul dan janin.
Pada panggul sempit sering terbentuk caput succedaneum besar. Kadang-kadang caput sangat besar sehingga sampai pada dasar panggul, sedang kepala dengan ukuran terbesar belum melalui pintu atas panggul. Orang yang belum berpengalaman dapat membuat kesalahan dan menyangka bahwa anak mudah dapat dilahirkan dengan forceps.
Caput succedaneum tidak berakibat buruk dan akan hilang beberapa hari setelah anak lahir.
Pada disproporsi sefalopelvik kepala anak baru dapat melalui panggul setelah  moulage. Ukuran kepala dapat mengecil karena “overlapping” tulang.
Karena moulage ini diemeter biparietalis dapat berkurang setengah sentimeter tanpa berakibat buruk tetapi bila harus mengecil lebih banyak, besar kemungkinan terjadi kerusakan otak.

G.    PROGNOSIS :
Prognosis persalinan bergantung kepada banyak faktor ; besar panggul, besar dan letak anak, his dan keadaan cervix. Meskipun besar panggul hanya merupakan salah satu faktor yang menentukan, apakah anak dapat lahir per vaginam atau tidak, dan masih banyak faktor yang berperan tapi hanya faktor panggul dapat dipastikan sebelum persalinan.
Lepas dari faktor lain, dapat dipastikan bahwa anak cukup bulan, tidak mungkin melalui panggul dengan  conjugata obstetrika kurang daripada 8,5 cm. sebaliknya bila conjugata obstetrika lebih daripada 10 cm kesulitan persalinan yang mungkin timbul, tidak kerana panggul.
Prognosis persalinan pada panggul dengan conjugata obstetrika kurang daripada 8,5 cm buruk dan perlu dilakukan sectio caesarea. Bila conjugata obstetrika 10 cm atau lebih diharapkan bahwa anak dapat melalui panggul.
Prognosis persalinan pada golongan ini ditentukan oleh beberapa faktor :
1.      Persalinan sebelumnya.
2.      Besarnya anak.
3.      Ketuban pecah sebelum waktunya.
4.      HIS
5.      Proses pembukaan.
6.      Bentuk panggul.
7.      Infeksi Intra Partum.
Karena belum dapat dipastikan, apakah janin dapat melalui panggul, dilakukan Partus Percobaan.
Pemeriksaan rontgenologik dengan membuat foto latereal dapat menggambarkan apakah kepala dapat turun dan melalui panggul.
Untuk mengetahui disproporsi cefalopelvik dapat dilakukan  pemeriksaan Mueller. Melalui dinding perut kepal anak dipegang dan didorong kebawah. Dengan jari di vagina dapat ditentukan apakah dengan dorongan kepala masuk kedalam Pintu Atas Panggul.
Dengan cefalometri rontgenologik atau ultrasonic dapat ditentukan besar kepala. Pemeriksaan rontgenologik tidak memuaskan dan pemeriksaan ultrasonic lebih cepat.
Panggul sempit pada letak sungsang merupakan komplikasi berat. Sering terjadi prolaps Funiculi dalam kala I dan kala II dapat terjadi kesulitan melahirkan kepala anak. Karena kepala anak tidak berdekatan dengan panggul tidak dapat ditentukan disproporsi sefalopelvik. Oleh karena itu secioa saecarea elektif sering dilakukan.
Umumnya letak muka dan dahi menunjukkan disproporsi sefalopelvik berat, sehingga anak cukup bulan dalam letak muka dan dahi lebih baik dilahirkan dengan sectio saecarea bila terdapat kesempitan panggul.
H.     TERAPI.
Terapi bergantung kepada prognosis persalinan. Bila menurut kriteria yang digunakan untuk penentuan prognosis, anak tidak dapat lahir per vaginam dengan aman, harus dilakukan sectio saecarea.
Bila masih terdapat kemungkinan anak lahir per vaginam sebaiknya dilakukan partus percobaan.
I.        Asuhan Kebidanan
a.       Memberikan semangat pada ibu dan keluarga
b.      Melakukan partus percobaan bila masih terdapat kemungkinan anak lahir pervaginam.
c.       Pada primipara dalam fase aktif kala satu persalinan lakukan asuhan seperti baringkan ibu pada posisi miring kiri.
d.      Segera rujuk ke fasilitas yang memiliki kemampuan untuk melakukan bedah sesar.
e.       Damping ibu ke tempat rujukan.

Greek Mythology (Curcol Edition*)

Hae, Guys... Did you ever heard about Greek Mythology before? To be honest, I’m never heard it before. Till someone that I follo...