Senin, 29 April 2013

KONSEP NIFAS




1.    Definisi Nifas
Masa nifas dimulai setelah kelahiran palsenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. (Abdul bari, 2000 : 122).
Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (F. Gary Cunningham, Mac Donald, 1995:281).
Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6-12 minggu. (Ibrahim C, 1998)
2.    Klasifikasi Nifas
Nifas dapat di bagi ke dalam 3 periode :
a.    Puerperium dini
Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan
b.    Puerperium intermedial
Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu
c.    Remote puerperium
yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih kembali dan sehat sempurna baik selama hamil atau sempurna berminggu-minggu, berbulan-bulan atau tahunan (Mochtar R, 1998)
3.    Tujuan Perawatan Masa NIfas
Dalam masa nifas ini penderita memerlukan perawatan dan pengawasan yang dilakukan selama ibu tinggal di rumah sakit maupun setelah nanti keluar dari rumah sakit.
Adapun tujuan dari perawatan masa nifas adalah :
a.    Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikologi.
b.    Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.
c.    Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi pada bayi dan perawatan bayi sehat.
d.    Memberikan pelayanan KB.
e.    Mempercepat involusi alat kandung.
f.     Melancarkan pengeluaran lochea, mengurangi infeksi puerperium.
g.    Melancarkan fungsi alat gastro intestinal atau perkemihan.
h.    Meningkatkan kelancaran peredaran darah sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolism. (Mochtar, 1998).
4.    Perubahan-perubahan yang Terjadi pada Masa Nifas Involusi Traktus Genetalis
Pada masa nifas, alat genetalia eksternal dan internal akan berangsur-angsur pulih seperti keadaan sebelum hamil.
a.    Corpus Uteri
Setelah plasenta lahir, uterus berangsur-angsur menjadi kecil sampai akhirnya kembali seperti sebelum hamil.
Tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut masa involusi
INVOLUSI
TINGGI FUNDUS UTERI
BERAT UTERUS
Bayi lahir
Setinggi pusat
1.000 gr
Uri lahir
2 jari di bawah pusat
750 gr
1 minggu
Pertengahan pusat sympisis
500 gr
2 minggu
Tak teraba di atas sympisis
350 gr
6 minggu
Bertambah kecil
50 gr
8 minggu
Sebesar normal
30 gr
(Sumber : Mochtar, 1998)

b.    Endometrium
Perubahan-perubahan endometrium ialah timbulnya thrombosis degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi plasenta.
Hari I   : Endometrium setebal 2 – 5 mm dengan permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua dan selaput janin.
Hari II : Permukaan mulai rata akibat lepasnya sel-sel dibagian yang mengalami degenerasi.
c.    Involusi tempat plasenta
Uterus pada bekas implantasi plasenta merupakan luka yang kasar dan menonjol ke dalam cavum uteri. Segera setelah plasenta lahir, penonjolan tersebut dengan diameter ± 7,5 cm. sesudah 2 minggu diameternya menjadi 3,5 cm dan 6 minggu telah mencapai 24 mm.
d.    Perubahan pada pembuluh darah uterus
Pada saat hamil arteri dan vena yang mengantar darah dari dan ke uterus khususnya di tempat implantasi plasenta menjadi besar setelah post partum otot-otot berkontraksi, pembuluh-pembuluh darah pada uterus akan terjepit, proses ini akan menghentikan darah setelah plasenta lahir.
e.    Perubahan servix
Segera setelah post partum, servix akan menganga seperti corong, karena corpus uteri yang mengadakan kontraksi. Sedangkan servix yang tidak berkontraksi, sehingga pembatasan antara corpus dan servix uteri berbentuk seperti cincin. Warna servix merah kehitam-hitaman karena pembuluh darah.
Segera setelah bayi dilahirkan, tangan pemeriksa masih dapat dimasukkan 2-3 jari saja dan setelah 1 minggu hanya dapat dimasukkan 1 jari ke dalam cavum uteri.
f.     Vagina dan pintu keluar panggul
vagina dan pintu keluar panggul membentuk lorong berdinding lunak dan luas yang ukurannya secara perlahan mengecil. Pada minggu ke – 3 post partum, hymen muncul beberapa jarigan kecil dan menjadi corunculac mirtiformis.
g.    Perubahan di peritoneum dan dinding abdomen
Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan pertus, setelah janin lahir berangsur-angsur ciut kembali. Ligamentum latum dan rotundum lebih kendor daripada kondisi sebelum hamil. (Mochtar, 1998).

5.    Adaptasi Psikologi Masa Nifas
a.    Masa Taking In
1)    Dimulai sejak dilahirkan sampai 2 – 3 hari.
2)    Ibu bersifat pasif dan berorientasi pada diri sendiri.
3)    Tingkat ketergantungan tinggi.
4)    Kebutuhan nutrisi dan istirahat tinggi

b.    Masa Taking Hold
1)    Berlangsung sampai 2 minggu.
2)    Klien mulai tertarik pada bayi.
3)    Ibu berupaya melakukan perawatan mandiri.
c.    Masa Letting Go
1)    Berlangsung pada minggu ke III – IV
2)    Perhatian pada bayi sebagai individu terpisah. (Mochtar, 1998).
6.    Aspek-aspek Klinik Masa Nifas
a.    Suhu
Suhu badan dapat mengalami peningkatan setelah persalinan, tetapi tidak lebih dari 380C. bila terjadi penigkatan melebihi 380C selama 2 hari berturut-turut, maka kemungkinan terjadi infeksi, kontraksi uterus yang diikuti HIS pengiring menimbulkan rasa nyeri-nyeri ikutan (after pain) terutama pada multipara, masa puerperium yang disebut lochea.
b.    Pengeluaran lochea terdiri dari ;
1)    Lochea rubra : hari 1 – 2
Terdiri dari darah segar bercampur sisa-sisa ketuban, sel-sel desidua, sisa-sisa vernix kaseosa, lanugo dan mekonium.
2)    Lochea sanguinolenta : hari ke 3 – 7
Terdiri dari : darah bercampur lendir, warna kecokelatan.
3)    Lochea serosa : hari ke 7 – 14
Berwarna kekuningan.
4)    Lochea alba  : hari ke 14 – selesai nifas
Hanya merupakan cairan putih lochea yang berbau busuk dan terinfeksi disebut lochea purulent.
c.    Payudara
Pada payudara terjadi perubahan atropik yang terjadi pada organ pelvix, payudara mencapai maturitas yang penuh selama masa nifas kecuali jika laktasi supresi payudara akan lebih menjadi besar, kencing dan lebih nyeri tekan sebagai reaksi terhadap perubahan status hormonal serta dimulainya laktasi.
Hari kedua post partum sejumlah colostrums cairan yang dieksresi oleh payudara selama lima hari pertama setelah kelahiran bayi dapat diperas dari putting susu. Colostrums banyak mengandung protein, yang sebagian besar globulin dan lebih banyak mineral tapi gula dan lemak sedikit.
d.    Traktus Urinarius
Buang air sering sulit selama 24 jam pertama, karena mengalami kompresi antara kepala dan tulang pubis selama persalinan.
Urin dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormone estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan yang mencolok, keadaan ini menyebabkan dieresis.


e.    Sistem Kardiovaskuler
Normalnya selama beberapa hari pertama setelah kelahiran, Hb, Hematokrit dan hitungan eritrosit berfruktuasi sedang. Akan tetapi umumnya, jika kadar ini turun jauh di bawah tingkat yang ada tepat sebelum atau selama persalinan awal wanita tersebut kehilangan darah yang cukup banyak. Pada minggu pertama setelah kelahiran, volume darah kembali mendekati seperti jumlah darah waktu tidak hamil yang biasa. Setelah 2 minggu perubahan ini kembali normal seperti keadaan tidak hamil. (Saifuddin, 2002).
7.    Perawatan Masa Nifas
Perawatan puerperium dilakukan dalam bentuk pengawasan sebagai berikut :
a.    Rawat Gabung
Perawatan ibu dan bayi dalam satu ruangan bersama-sama, sehingga ibu lebih banyak memperhatikan bayinya, memberikan ASi sehingga kelancaran pengeluaran ASI terjamin.
1)    Pemeriksaan umum; kesadaran penderita, keluhan yang terjadi setelah persalinan.
2)    Pemeriksaan khusus; fisik, tekanan darah, nadi, suhu, respirasi, tinggi fundus uteri, kontraksi uterus.
3)    Payudara; putting susu atau stuwing ASI, pengeluaran ASI, perawatan payudara sudah dimulai sejak hamil sebagai persiapan untuk menyusui bayinya. Bila bayi mulai disusui, isapan pada putting susu merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris mengakibatkan oxitosin dikeluarkan oleh hipofisis. Produksi akan lebih banyak dan involusi uteri akan lebih sempurna.
4)    Lochea : lochea rubra, lochea sanguinolenta
5)    Luka jahitan ; apakah baik atau terbuka, apakah ada tanda-tanda infeksi (kotor, dolor/fungsi laesa dan pus).
6)    Mobilisasi ; karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring ke kiri dan ke kanan serta diperbolehkan untuk duduk, atau pada hari ke – 4 dan ke – 5 diperbolehkan pulang.
7)    Diet ; makan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya maka makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayuran dan buah-buahan.
8)    Miksi ; hendaknya buang air kecil dapat dilakukan sendiri secepatnya, paling tidak 4 jam setelah kelahiran. Bila sakit, kencing dikateterisasi.
9)    Defekasi ; buang air besar dapat dilakukan 3 – 4 hari pasca persalinan. Bila sulit BAB dan terjadi obstipasi apabila BAB keras dapat diberikan laksans per oral atau perektal. Jika belum bisa dilakukan klisma.
10) Kebersihan diri ; anjurkan kebersihan seluruh tubuh, membersihkan daerah kelamin dengan air dan sabun. Dari vulva terlebih dahulu dari depan ke belakang kemudian anus. Mengganti pembalut setidaknya dua kali sehari, mencuci tangan sebelum dan sesudah membersihkan kelamin.
11) Menganjurkan pada ibu agar mengikuti KB sedini mungkin setelah 40 hari (16 minggu post partum).
12) Nasehat untuk ibu post partum; sebaiknya bayi disusui, psikoterapi post natal sangat baik bila diberikan. Sebaiknya ikut KB.
b.    Imunisasi ; bawalah bayi ke RS, PKM, Posyandu atau dokter praktek untuk memperoleh imunisasi.
c.    Cuti hamil dan bersalin
Menurut undang-undang bayi, wanita, pekerja berhak mengambil cuti hamil dan bersalinan selama 3 bula yaitu 1 bulan sebelum bersalin dan 2 bulan setelah bersalin (Manuaba, 1998)
8.    Program dan Kebijakan Teknis
Paling sedikit ada 4 kali kunjungan masa nifas yang dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir. Untuk mencegah, mendeteksi serta menangani masalah-masalah yang terjadi.
a.    Kunjungan masa nifas teridiri dari :
1)    Kunjungan I : 6 – 8 jam setelah persalinan.
Tujuannya :
a)    mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
b)    mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, merujuk bila perdarahan berlanjut.
c)    Memberikan konseling dan merawat penyebab lain pedarahan masa nifas karena atonia uteri.
d)    Pemberian ASI awal.
e)    Melakukan hubungan antara ibu dan bayi.
f)     Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.
2)    Kunjungan II : 6 hari setelah persalinan
Tujuannya :
a)    Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus ddibawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
b)    Menilai adanya tanda-tanda demam infeksi atau perdarahan abnormal.
c)    Memastikan ibu menyusui dengan dan memperhatikan tanda-tanda penyakit.
d)    Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
3)    Kunjungan III : 2 minggu setelah persalinan.
Tujuannya : sama dengan diatas (6 hari setelah persalinan)
4)    Kunjungan IV : 6 minggu setelah persalinan.
Tujuannya :
a)    Menanyakan ibu tentang penyakit-penyakit yang dialami.
b)    Memberikan konseling kuntuk KB secara dini. (Mochtar 1998).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Greek Mythology (Curcol Edition*)

Hae, Guys... Did you ever heard about Greek Mythology before? To be honest, I’m never heard it before. Till someone that I follo...